Catatan satu setengah dekade tentang residu yang mengendap jelaga api cemburu, dan menyapu sampah dari lantai ingatan.
Lima belas tahun bukanlah masa tidur, ia berdenyut pelan dalam inkubasi yang mengunyah waktu dalam senyap ruang sunyi di kepala.
Sebuah laboratorium hampa yang tekun merajut sebuah catatan, serupa lubang cacing yang menelan cahaya di setiap putaran hari berjalan; merekam setiap keping data, melihat jejak langkah kepalsuan, menyimpan segala gema kebohongan dalam arsiparis luka.
Tahun terus berganti, dua ribu dua puluh enam masehi. Mencoba menarik seutas benang rapuh dari dua hayat manusia yang telah terurai. Seluruh gulungan dimuntahkan, terburai tanpa henti, memulur dan hitam pekat tentang catatan takdir dan tagihan dosa yang telah diterbitkan oleh mesin pencetak termal.
Hanya ada penyaksian di tepian, tanpa perlu hadir di tengah pusaran.
Merasakan dari kejauhan tekanan dan jeratan yang sudah tidak terbendung, tentang cerita dua jiwa yang menyimpan percikan yang perlahan membakar sekam lumbung sendiri.
Sebuah kehancuran yang tidak membutuhkan sentuhan apapun dari seberang.
Berulang kali kalam itu berujar, bukan tentang menabuh genderang perang. Ini hanyalah cara mengurai benang usang untuk disapu perlahan, menuju pintu pelupaan yang tak lagi memiliki mahkota untuk menetap.
Dalam penglihatan murni mereka hanyalah residu yang mengendap pada retakan waktu. Tumpukan debu yang sengaja singgah mengotori lantai perjalanan; jelaga dua jiwa yang tertinggal setelah api kepalsuan padam.
Mereka hanyalah sepasang entitas yang saling memakan rupa, menari di atas panggung sandiwara, dan memalsukan narasi setiap hari demi menyangkal keaslian yang menyakitkan dari sudut seberang.
Kalian hanyalah naskah salinan dari dunia maya,
yang perlahan memudar…
- Jakarta, Februari 2026 -
Galuh Retno F
