Dia tidak pernah pergi,
meski berkali-kali melarung ingatan...
Ribuan kebisingan kini melintas serempak di muka. Ia duduk terpojok dalam ruang tamu jiwa, terlihat tenang; hanya sesekali berlari di kepala dengan seribu langkah membawa satu pesan terbuka.
Hariku sibuk, mengamati dan menghitung setiap retakan yang menari, terpikat pada setiap keping ke mana jalur itu mulai berlari. Garis lurus kini hanya sebuah keajaiban yang muhal.
Bertanya tanpa suara, begitu dalam tanpa harus meraba arah pintu keluar yang sama.
Sebuah ironi yang melelahkan.
Takdir kembali menyisihkan tumpukan angan, dengan jemari yang dingin. Ia tidak menghakimi, Ia menyajikan sebuah sauh di tengah badai yang menghantui.
Langkah menerus mengayun kaki,
mencari rumah yang sudah tidak berwujud, menerima garis hidup yang diciptakan-Nya untuk terus diselami.
Takdir tidak pernah pergi...
Ia adalah irama yang tercipta untuk setia mengalunkan warna, senantiasa tersirat dalam coretan kalam-Nya.
Galuh Retno F
